SETIA KAWAN TERHADAP YANG PAPA
Kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas,16 : 19 – 31) menyodorkan semacam paradoks tentang kekayaan. Pada saat dunia berlomba mengumpulkan kekayaan, Injil justru mengatakan sebaliknya. Dalam benak kita muncul kesan sepintas bahwa Injil memupuk kebencian terhadap harta dan pemilikan kekayaan. Kotbah di Bukit (Mat, 5 : 2) secara eksplisit mengatakan ‘berbahagialah yang miskin’, dan dipertegas oleh Lukas dengan menyatakan ‘celakalah kamu yang kaya’, karena dalam kekayaan kamu telah memperoleh penghiburan’ (Luk, 6 : 24).Mencermati teks di atas secara eksplisit membenarkan keadaan miskin dan mencela kekayaan. Bilakonsep ini dipertahankan,maka kita akan diarahkan kepada sikap pasrah pada nasib. Padahal kalau mengamati situasi konkrit, kehidupan orang miskin cenderung jauh dari gambaran kekudusan yang diidealkan. Pelacuran, perampokan, pencurian dan pelbagai bentuk kriminalitas sering lahir dari tekanan ekonomi dan situasi pelik kemiskinan. Di lain pihak, ada banyak orang kaya yang hidup saleh dan murah hati. Paradoks ini menyodorkan alternative kebenaran lain yakni keadaan miskin atau kaya tidak otomatis menjanjikan surga atau neraka.
Pewartaan Injil “berbahagialah yang miskin’. Persoalannya,siapakah dikategorikan sebagai kaum miskin dan kaya dalam kondisi dunia yang beraneka ragam ? Kalau diteliti tentang rasa miskin dan kaya, hamper pasti kebanyakan orang akan menyatakan dirinya miskin dan cuma sedikit yang mengaku dirinya kaya. Persoalan praktis, apakah kemiskinan menjadi syarat mutlak untuk masuk dalam Kerajaan Surga dan orang kaya masuk neraka ?
Menyimak paradoks di atas, kita diajak menilik konteks pewartaan Yesus. Semasa hidupnya, Yesus tidak pernah membuat program pembangunan fisik untuk mengentaskan kemiskinan. Upaya-Nya sangat jauh dari harapan orang Yahudi. Dia sendiri pun tidak pernah berurusan dengan uang, dan penyaluran dana bantuan. Inti ajaran Yesus ialah bagaimana manusia menempatkan dirinya di hadapan Allah dan sesame. Pewartaan Yesus selalu menyiratkan konsep relasional antara manusia dan sesama dan manusia dengan Allah.
Sehubungan dengan warta Yesus, konsep kaya dan miskin yang disampaikan selalu dalam porsi hubungan antarpribadi. Kemiskinan dan kekayaan selalu dikaitkan dengan kebebasan untuk mengekspresikan cinta kepada Allah dan sesama. Bila seseorang tidak memiliki apa-apa, maka ia tidak bebas untuk beribadah dan memberikan amal. Dia cemas memikirkan makanan, risau tentang uang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian, obat dan sebagainya. Dalam jerat ketakberdayaan, dia harus ditolong oleh sesama yang lebih berkecukupan.
Dalam pewartaan-Nya, Yesus selalu mengecam orang kaya yang terlalu melekatkan diri pada kekayaan danlupa orang lain yang menderita di sekitarnya. Pada prinsipnya, harta harus dipergunakan untuk menjalin relasi dan menjaring rahmat.
Orang kaya (Lk, 16 : 19 – 31) tidak pernah melakukan sesuatu yang jahat terhadap Lazarus yang miskin. Namun pada saat mati ia dijebloskan kedalam neraka tanpa alasan yang jelas. Dalam kacamata hukum positif , orang kaya itu hanya bisa dihukum bila ia terlibat dalam kejahatan yang merugikan si miskin. Dalam kenyataan dia tidak terlibat sehingga dia harus bebas. Logika ini tidak sejalan dengan logika hukum Allah. Bagi Yesus, keterlibatan untuk hidup solider dengan kaum miskin. Dalam pandangan Yesus, si kaya harus menolong si miskin keluar dari kemelaratan agar ia sanggup mewujudkan kemerdekaannya sebagai manusia. Barclay menulis bahwa kesalahan si kaya bukan karena dia melakukan sesuatu yang jahat, melainkan karena dia tidak berbuat apa-apa untuk menolong Lazarus. Alur kisah yang sama kita jumpai dalam cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Lk, 10 : 25 – 37).Imam dan seorang Lewi yang lewat dekat korban dipersalahkan bukan karena terlibat dalam aksi jahat, melainkan karena tidak membantu si korban. Ketidakpekaan terhadap sesama yang menderita menjadi dakwaan yang memvonis orang kaya masuk neraka.
Dalam konteks yang sama, Nabi Amos mengkritik para penguasa Israel (Amos, 6 : 1 – 7) karena tidak mempedulikan nasib rakyat jelata. Tempat tidur gading dan kelimpaahan makanan menggambarkan kemewahan dan kenyamanan hidup penguasa yang tidak tergerak oleh jeritan penderitaan rakyat kecil. Mereka berpesta pora di istana, menikmati kepuasan hidupyang berkelimpahan sementara banyak rakyat Israel hidup dalam kekurangan. Menyaksikan jurang pemisah antara penguasa dan rakyat, Amos tampil menyampaikan pesan profetisnya. Dalam kritiknya, Amos meramalkan hukuman atas Israel berupa pembuangan ke tanah asing.
Pewartaan Yesus dan Amos telah berulang kali kita dengar dan sekan telah menjadi tembang lama dalam sejarah umat manusia. Penguasa dan si kaya tidak mempedulikan penderitaan orang di sekitarnya. Ada banyak penguasa yang pada permulaan masa jabatan bersumpah demi kepentingan rakyat banyak dan orang kecil, tetapi dalam kenyataan mengumpulkan kekayaan bagi diri sendiri. Banyak orang kaya bukannya berusaha menolong yang lebih miskin melainkan mengeruk habis sisa-sisa kemiskinan mereka. Orang miskin dan lemah adalah mangsa empuk untuk dikibuli dan dimanipulasi.
Menyimak warta Amos dan Yesus terbetik gagasan dasar bahwa kebajikan Kristen tidak cukup hanya dengan mengelak untuk berbuat jahat melainkan harus terlibat aktif untuk membangunkan yang jatuh dan menyokong yang lemah. Kebajikan kristiani tidak sebatas wujud doa dan kesalehan pribadi, melainkan harus menolong sesama. Perbuatan-perbuatan itu baik akan dipakai sebagai takaran dalam pengabdian terakhir : “Apakah yang engkau berbuat baik bagi saudaraku yang paling hina ini? (Mt, 25 : 31 – 46). Kesalehan harus menjadi daya penggerak danmenjelma dalam perbuatan atau seperti diformulasikan Santo Vincensius A. Paulo, doa sejati ialah melayani orang miskin.”
Kekristenan dalam pengertian tertentu boleh diidentikkan sebagai kesetiakawanan atau solidaritas. Semangat kesetiakawanan mengungkapkan kekokohan persatuan seorang dengan yang lain, ibarat satu anggota tubuh dengan yang lain. Bila yang satu menderita, maka yang lain pun harus menderita (I Kor 12 : 12 – 26). Rasa senasib dan bertanggung jawab atas hidup orang lain mesti menjadi sikap dasar setiap pengikut Kristus.
Setia kawan dengankaum miskin menuntut kepekaan dan kemauan untuk bertindak proaktif. Kepekaan yang tercermin dalam kemampuan merasa dan membaca tanda-tanda zaman harus didukung dengan kemauan untuk berbuat baik. Kepekaan tanpa kemauan menjadi impian belaka, sedangkan kemauan tanpa kepekaanakan buta. Dunia moderen yang difasilitasi teknologi informasi canggih, menyajikan semua kejadian di atas muka bumi dan seakan berlangsung di depan mata sendiri.Peristiwa pengeboman di World Trade Centre di Pentagon beberapa tahun silam disaksikan oleh hamper semua orang lewat televise. Kelaparan dan penderitaan manusia di belahan bumi lain dipertontonkan kepada segenap dunia. Tapi apakah informasi yang makin dekat membuat orang merasa semakin peka ?
Pewartaan Lukas dan Amos mengingatkan kita untuk mengasah kepekaan dan kemauan bertindak. Betapa banyak orang di sekitar kita yang miskin dan menderita. Mereka yang dimaksudkan Injil sebagai orang miskin yang harus diperhatikan. Kita memberi bukan karena berkecukupan, melainkan karena ingin berbagi suka dan duka dengan mereka yang berkekurangan. Orang kaya dipersalahkan karena ingat diri dan acuh terhadap si miskin. Dia tidak bebas mengungkapkancinta.. Apakah kita bebas mengungkapkan cinta kepada sesama yang berkekurangan ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar