Minggu, 06 Maret 2011

Belek Guna Lamafa


Aku bangga punya ayah seorang ‘LAMAFA’

s

 iapanama ayahku, dan kapan ia lahir, rasa-rasanya tidak penting bagiku,karena kisah ini bukannya tentang arti sebuah nama, atau makna suatu kelahiran, tetapi tentang kebanggaanku terhadap profesi ayah yang hanyalah seorang ‘lamafa’, istilah bagi seorang ‘juru tikam’ di Lamalera Flores Nusa Tenggara Timur, desa penangkapan ikan paus secara tradisional.
Lamalera dan ‘lamafa’  laksana dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan satu dengan yang lainnya lantaran  Lamalera bisa terkenal sebagai sebuah desa nelayan tradisional paling unik di Asia Tenggara berkat  profesi ‘lamafa’,  yang syarat dengan kesakralan dan keajaiban hidup.

Lamalera, sebuah desa paus yang sejak dulu hingga sekarang menjadi incaran para turis baik wisatawan mancanegara maupun domestik.
Setiap orang yang datang dari luar pasti akan merasa ngeri melihat tampangnya. Tersusun batu wadas pejal, sementara ganasnya laut Sawu mengamuk. Ketenangan seakan terusik dentuman perang hebat, antara laut yang buas menghempas dan batu-batu wadas yang gigih menantang, antara gelora gelombang yang menghancur-baur dan bebatuan berderik berguling lincah bak ketawa sinis.
Di atas pejal wadas dan hempasan ombak ini bersemadi sebuah kehidupan yang menjadi indah bermandi cahaya fajar dan surya. Suatu pilihan yang mustahil untuk orang luar, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Suatu misteri kehidupan yang sukar terpikir benak asing, namun nyata terjangkau orang-orangnya, karena memang demikian adanya.
                Menjadi seorang ‘lamafa’ tidak lazimnya seperti profesi lain. Guru atau dosen harus membutuhkan suatu jenjang pendidikan formal dengan menggondol selembar ijasah sebagai bukti ia telah tamat belajar/kuliah.
Seorang  ‘lamafa’ tidak pernah dibekali dengan kursus ketrampilan atau pun pelatihan, apalagi yang namanya diklat, training centre atau yang lainnya dengan hasil akhir sertifikat atau pun piagam penghargaan bagi yang berprestasi dan sukses mengikutinya.
Untuk menjadi ‘lamafa’ tidak perlu membolak-balik surat kabar untuk meneliti baris per baris pada kolom iklan ‘lowongan pekerjaan’, atau membesarkan mata juga telinga untuk mendengar dan memirsa berita reklame serta tayangan media elektronika tentang ‘bursa kerja’.
Menjadi seorang ‘lamafa’ sudah cukup mengandalkan keahlian alami, tanpa dibuat-buat, tanpa basa-basi, tanpa rekayasa. Namun etika, moral dan akhlak yang baik pun sangat menunjang profesi ini.
Profesi ‘lamafa’ adalah profesi yang gampang-gampang susah. Kelihatannya gampang namun jangan dianggap enteng.
Meskipun tidak dibekali ilmu pengetahuan dan pelatihan yang cukup berarti, seorang ‘lamafa’ harus membutuhkan kesigapan dan ketrampilan alami khusus. Faktor ini sebagai sektor penunjang profesi dan keahlian seorang ‘lamafa’.
Seorang ‘lamafa’  tidak saja merasa pintar dalam dunia ke’lamafa’annya, tetapi sebaliknya ia juga harus pintar merasa, membaca, dan menterjemahkan, bahkan mampu memenuhi keinginan dan harapan semua anggotanya, dan juga harapan semua mereka yang menggantungkan hidupnya dari hasil buruan paus  ‘sang raja laut’ sebagai sarana penyambung hidup.
Seorang ‘lamafa’ adalah juga seorang pemimpin karena ia harus membawahi sekitar 10 sampai  12 orang awak perahu dalam atraksi pengejaran terhadap  raja laut itu.
Kebanyakan orang tidak pernah menganggap remeh terhadap profesi yang satu ini.
Profesi ‘lamafa’ bukanlah sebuah jabatan yang selalu diincar dan diperebutkan orang-orang yang biasanya mempunyai ambisi untuk memperolehnya, meskipun dengan menghalalkan segala maca cara, bukan pula sebuah pangkat yang selalu diimpikan dengan menepiskan etika main yang seharusnya sehingga kepentingan orang banyak terpaksa diabaikan demi kehormatan dan keharuman nama yang sebenarnya adalah semu.
Profesi ‘lamafa’ bukanlah sebuah tawaran menggiurkan yang menjanjikan seribu satu macam kehidupan, hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok akan lebih baik dari hari ini, bukan pula sebuah Nomor Induk Pegawai (NIP) yang selalu diributkan, namun selalu menjadi incaran oleh orang kebanyakan dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya untuk mendapatkannya lewat test yang hasilnya nihil seperti mencari seekor kucing hitam di bawah tanah yang tak nampak kucing hitamnya.
Profesi ini tidak pernah memperhitungkan falsafah untung rugi, profesi yang penuh resiko dan taruhannya adalah nyawa bak seorang prajurit yang sebelum maju ke medan perang harus mengangkat sumpah ‘mati yes, hidup no’,. profesi yang sulit dimengerti oleh benak manusia, tetapi menarik untuk dicermati, yang dikaluti seram dan rasa takut, tetapi mesra untuk digeluti, yang penuh dengan wadas dan kerikil tajam, tetapi bukan berarti tidak mungkin.
                Apa yang dibanggakan dari profesi ayahku ini ?
Seorang guru dengan kulum senyum seorang pendidik membanggakan profesinya karena mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang Pancasilais sejati, seorang dokter sepantasnya membanggakan profesinya karena dapat menyelamatkan nyawa seorang pasiennya dari penyakit atau bahaya maut.
Tidak banyak yang aku banggakan :
Aku cukup bangga terhadap profesi yang pantang akan ambisi dan kuasa, profesi yang alergi terhadap sentimen dan cemburu sosial, dan satu yang pasti adalah bagaimana profesi seorang ‘lamafa’ yang mampu membaca, merasakan, menterjemahkan dan memenuhi keinginan dan harapan dari semua yang menggantungkan hidupnya dari profesi ini termasuk para janda dan fakir miskin.
Ayahku kini telah tiada, namun masih ada banyak orang yang akan mewarisi profesi ini.
Ia pun pasti membanggakan hidup dan kehidupanku sekarang ini. Ia tidak pernah mengharapkan agar aku menjadi seorang Habbibie yang mampu mengembangkan teknologi perpesawatan di negeri ini, atau menjadi seorang Pratiwi Soedharmono yang menjadi astronaut wanita pertama di Asia. Setidak-tidaknya ia sudah cukup bangga melihat diriku yang telah menjadi seorang manusia. Ya seorang manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dan kelebihanku. Manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan gereja serta ‘lewo tanah’
                                                                                                                                Sintang, Medio  Maret 2010
                                                                                                                                (S.R. Tapoona)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar