Minggu, 06 Maret 2011

setia kawan


SETIA KAWAN TERHADAP YANG PAPA

Kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas,16 : 19 – 31) menyodorkan semacam paradoks tentang kekayaan. Pada saat dunia berlomba mengumpulkan kekayaan, Injil justru mengatakan sebaliknya. Dalam benak kita muncul kesan sepintas bahwa Injil memupuk kebencian terhadap harta dan pemilikan kekayaan. Kotbah di Bukit (Mat, 5 : 2) secara eksplisit mengatakan ‘berbahagialah yang miskin’, dan dipertegas oleh Lukas dengan menyatakan ‘celakalah kamu yang kaya’, karena dalam kekayaan kamu telah memperoleh penghiburan’ (Luk, 6 : 24).Mencermati teks di atas secara eksplisit membenarkan keadaan miskin dan mencela kekayaan. Bilakonsep ini dipertahankan,maka kita akan diarahkan kepada sikap  pasrah pada nasib. Padahal kalau mengamati situasi konkrit, kehidupan orang miskin cenderung jauh dari gambaran kekudusan yang diidealkan. Pelacuran, perampokan, pencurian dan pelbagai bentuk kriminalitas sering lahir dari tekanan ekonomi dan situasi pelik kemiskinan. Di lain pihak, ada banyak orang kaya yang hidup saleh dan murah hati. Paradoks ini menyodorkan alternative kebenaran lain yakni keadaan miskin atau kaya tidak otomatis menjanjikan surga atau neraka.
Pewartaan Injil “berbahagialah yang miskin’. Persoalannya,siapakah dikategorikan sebagai kaum miskin dan kaya dalam kondisi dunia yang beraneka ragam ? Kalau diteliti tentang rasa miskin dan kaya, hamper pasti kebanyakan orang akan menyatakan dirinya miskin dan cuma sedikit yang mengaku dirinya kaya. Persoalan praktis, apakah kemiskinan menjadi syarat mutlak untuk masuk dalam Kerajaan Surga dan orang kaya masuk neraka ?
Menyimak paradoks di atas, kita diajak menilik konteks pewartaan  Yesus. Semasa hidupnya, Yesus tidak pernah membuat program pembangunan fisik untuk mengentaskan kemiskinan. Upaya-Nya sangat jauh dari harapan orang Yahudi. Dia sendiri pun tidak pernah berurusan dengan uang, dan penyaluran dana bantuan. Inti ajaran Yesus ialah bagaimana manusia menempatkan dirinya di hadapan Allah dan sesame. Pewartaan Yesus selalu menyiratkan konsep relasional antara manusia dan sesama dan manusia dengan Allah.
Sehubungan dengan warta Yesus, konsep kaya dan miskin yang disampaikan selalu dalam porsi hubungan antarpribadi. Kemiskinan dan kekayaan selalu dikaitkan dengan kebebasan untuk mengekspresikan cinta kepada Allah dan sesama. Bila seseorang tidak memiliki apa-apa,  maka ia tidak bebas untuk beribadah dan memberikan amal. Dia cemas memikirkan makanan, risau tentang uang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian, obat dan sebagainya. Dalam jerat ketakberdayaan, dia harus ditolong oleh sesama yang lebih berkecukupan.
Dalam pewartaan-Nya, Yesus selalu mengecam orang kaya yang terlalu melekatkan diri pada kekayaan danlupa orang lain yang menderita di sekitarnya. Pada prinsipnya, harta harus dipergunakan untuk menjalin relasi dan menjaring rahmat.
Orang kaya (Lk, 16 : 19 – 31) tidak pernah melakukan sesuatu yang jahat terhadap Lazarus yang miskin. Namun pada saat mati ia dijebloskan kedalam neraka tanpa alasan yang jelas. Dalam kacamata hukum positif , orang kaya itu hanya bisa dihukum bila ia terlibat dalam kejahatan yang merugikan si miskin. Dalam kenyataan dia tidak terlibat sehingga dia harus bebas. Logika ini tidak sejalan dengan logika hukum Allah. Bagi Yesus, keterlibatan untuk hidup solider dengan kaum  miskin. Dalam pandangan Yesus, si kaya harus menolong si miskin keluar dari kemelaratan agar ia sanggup mewujudkan kemerdekaannya sebagai manusia. Barclay menulis bahwa kesalahan si kaya bukan karena dia melakukan sesuatu yang jahat, melainkan karena dia tidak berbuat apa-apa untuk menolong Lazarus. Alur kisah yang sama kita jumpai dalam cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Lk, 10 : 25 – 37).Imam dan seorang Lewi yang lewat dekat korban dipersalahkan bukan karena terlibat dalam aksi jahat, melainkan karena tidak membantu si korban. Ketidakpekaan terhadap sesama yang menderita menjadi dakwaan yang memvonis orang kaya masuk neraka.
Dalam konteks yang sama, Nabi Amos mengkritik para penguasa Israel (Amos, 6 : 1 – 7) karena tidak mempedulikan nasib rakyat jelata. Tempat tidur gading dan kelimpaahan makanan menggambarkan kemewahan dan kenyamanan hidup penguasa yang tidak tergerak oleh jeritan penderitaan rakyat kecil. Mereka berpesta pora di istana, menikmati kepuasan hidupyang berkelimpahan sementara banyak rakyat Israel hidup dalam kekurangan. Menyaksikan jurang pemisah antara penguasa dan rakyat, Amos tampil menyampaikan  pesan profetisnya. Dalam kritiknya, Amos meramalkan hukuman atas Israel berupa pembuangan ke tanah asing.
Pewartaan Yesus dan Amos telah berulang kali kita dengar dan sekan telah menjadi tembang lama dalam sejarah umat manusia. Penguasa dan si kaya tidak mempedulikan penderitaan orang di sekitarnya. Ada banyak penguasa yang pada permulaan masa jabatan bersumpah demi kepentingan rakyat banyak dan orang kecil, tetapi dalam kenyataan mengumpulkan kekayaan bagi diri sendiri. Banyak orang kaya bukannya berusaha menolong yang lebih miskin  melainkan mengeruk habis sisa-sisa kemiskinan mereka. Orang miskin dan lemah adalah mangsa empuk untuk dikibuli dan dimanipulasi.
Menyimak warta Amos dan Yesus terbetik gagasan dasar bahwa kebajikan Kristen tidak cukup hanya  dengan mengelak untuk berbuat jahat melainkan harus terlibat aktif untuk membangunkan yang jatuh dan menyokong yang lemah. Kebajikan kristiani tidak sebatas wujud doa dan kesalehan pribadi, melainkan harus menolong sesama. Perbuatan-perbuatan itu baik akan dipakai sebagai takaran dalam pengabdian terakhir : “Apakah yang engkau berbuat baik bagi saudaraku yang paling hina ini?  (Mt, 25 : 31 – 46). Kesalehan harus menjadi daya penggerak danmenjelma dalam perbuatan atau seperti diformulasikan Santo Vincensius A. Paulo, doa sejati ialah melayani orang miskin.”
Kekristenan dalam pengertian tertentu boleh diidentikkan sebagai kesetiakawanan atau solidaritas. Semangat kesetiakawanan mengungkapkan kekokohan persatuan seorang dengan yang lain, ibarat satu anggota tubuh dengan yang lain. Bila yang satu menderita, maka yang lain pun harus menderita (I Kor 12 : 12 – 26). Rasa senasib dan bertanggung jawab atas hidup orang lain mesti menjadi sikap dasar setiap pengikut Kristus.
Setia kawan dengankaum miskin menuntut kepekaan dan kemauan untuk bertindak proaktif. Kepekaan yang tercermin dalam kemampuan merasa dan membaca tanda-tanda zaman harus didukung  dengan kemauan untuk berbuat baik. Kepekaan tanpa kemauan  menjadi impian belaka, sedangkan kemauan tanpa kepekaanakan buta. Dunia moderen yang difasilitasi teknologi informasi  canggih, menyajikan semua kejadian di atas muka bumi dan seakan berlangsung di depan mata sendiri.Peristiwa pengeboman di World Trade Centre di Pentagon beberapa tahun silam disaksikan oleh hamper semua orang lewat televise. Kelaparan dan penderitaan manusia di belahan bumi lain dipertontonkan kepada segenap dunia. Tapi apakah informasi yang makin dekat membuat orang merasa semakin peka ?
Pewartaan Lukas dan Amos mengingatkan kita untuk mengasah kepekaan dan kemauan bertindak. Betapa banyak  orang di sekitar kita yang miskin dan menderita. Mereka yang dimaksudkan Injil sebagai orang miskin yang harus diperhatikan. Kita memberi bukan karena berkecukupan, melainkan karena ingin berbagi suka dan duka dengan mereka yang berkekurangan. Orang kaya dipersalahkan karena ingat diri dan acuh terhadap si miskin. Dia tidak bebas mengungkapkancinta.. Apakah kita bebas mengungkapkan cinta kepada sesama yang berkekurangan ?

Belek Guna Lamafa


Aku bangga punya ayah seorang ‘LAMAFA’

s

 iapanama ayahku, dan kapan ia lahir, rasa-rasanya tidak penting bagiku,karena kisah ini bukannya tentang arti sebuah nama, atau makna suatu kelahiran, tetapi tentang kebanggaanku terhadap profesi ayah yang hanyalah seorang ‘lamafa’, istilah bagi seorang ‘juru tikam’ di Lamalera Flores Nusa Tenggara Timur, desa penangkapan ikan paus secara tradisional.
Lamalera dan ‘lamafa’  laksana dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan satu dengan yang lainnya lantaran  Lamalera bisa terkenal sebagai sebuah desa nelayan tradisional paling unik di Asia Tenggara berkat  profesi ‘lamafa’,  yang syarat dengan kesakralan dan keajaiban hidup.

Lamalera, sebuah desa paus yang sejak dulu hingga sekarang menjadi incaran para turis baik wisatawan mancanegara maupun domestik.
Setiap orang yang datang dari luar pasti akan merasa ngeri melihat tampangnya. Tersusun batu wadas pejal, sementara ganasnya laut Sawu mengamuk. Ketenangan seakan terusik dentuman perang hebat, antara laut yang buas menghempas dan batu-batu wadas yang gigih menantang, antara gelora gelombang yang menghancur-baur dan bebatuan berderik berguling lincah bak ketawa sinis.
Di atas pejal wadas dan hempasan ombak ini bersemadi sebuah kehidupan yang menjadi indah bermandi cahaya fajar dan surya. Suatu pilihan yang mustahil untuk orang luar, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Suatu misteri kehidupan yang sukar terpikir benak asing, namun nyata terjangkau orang-orangnya, karena memang demikian adanya.
                Menjadi seorang ‘lamafa’ tidak lazimnya seperti profesi lain. Guru atau dosen harus membutuhkan suatu jenjang pendidikan formal dengan menggondol selembar ijasah sebagai bukti ia telah tamat belajar/kuliah.
Seorang  ‘lamafa’ tidak pernah dibekali dengan kursus ketrampilan atau pun pelatihan, apalagi yang namanya diklat, training centre atau yang lainnya dengan hasil akhir sertifikat atau pun piagam penghargaan bagi yang berprestasi dan sukses mengikutinya.
Untuk menjadi ‘lamafa’ tidak perlu membolak-balik surat kabar untuk meneliti baris per baris pada kolom iklan ‘lowongan pekerjaan’, atau membesarkan mata juga telinga untuk mendengar dan memirsa berita reklame serta tayangan media elektronika tentang ‘bursa kerja’.
Menjadi seorang ‘lamafa’ sudah cukup mengandalkan keahlian alami, tanpa dibuat-buat, tanpa basa-basi, tanpa rekayasa. Namun etika, moral dan akhlak yang baik pun sangat menunjang profesi ini.
Profesi ‘lamafa’ adalah profesi yang gampang-gampang susah. Kelihatannya gampang namun jangan dianggap enteng.
Meskipun tidak dibekali ilmu pengetahuan dan pelatihan yang cukup berarti, seorang ‘lamafa’ harus membutuhkan kesigapan dan ketrampilan alami khusus. Faktor ini sebagai sektor penunjang profesi dan keahlian seorang ‘lamafa’.
Seorang ‘lamafa’  tidak saja merasa pintar dalam dunia ke’lamafa’annya, tetapi sebaliknya ia juga harus pintar merasa, membaca, dan menterjemahkan, bahkan mampu memenuhi keinginan dan harapan semua anggotanya, dan juga harapan semua mereka yang menggantungkan hidupnya dari hasil buruan paus  ‘sang raja laut’ sebagai sarana penyambung hidup.
Seorang ‘lamafa’ adalah juga seorang pemimpin karena ia harus membawahi sekitar 10 sampai  12 orang awak perahu dalam atraksi pengejaran terhadap  raja laut itu.
Kebanyakan orang tidak pernah menganggap remeh terhadap profesi yang satu ini.
Profesi ‘lamafa’ bukanlah sebuah jabatan yang selalu diincar dan diperebutkan orang-orang yang biasanya mempunyai ambisi untuk memperolehnya, meskipun dengan menghalalkan segala maca cara, bukan pula sebuah pangkat yang selalu diimpikan dengan menepiskan etika main yang seharusnya sehingga kepentingan orang banyak terpaksa diabaikan demi kehormatan dan keharuman nama yang sebenarnya adalah semu.
Profesi ‘lamafa’ bukanlah sebuah tawaran menggiurkan yang menjanjikan seribu satu macam kehidupan, hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok akan lebih baik dari hari ini, bukan pula sebuah Nomor Induk Pegawai (NIP) yang selalu diributkan, namun selalu menjadi incaran oleh orang kebanyakan dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya untuk mendapatkannya lewat test yang hasilnya nihil seperti mencari seekor kucing hitam di bawah tanah yang tak nampak kucing hitamnya.
Profesi ini tidak pernah memperhitungkan falsafah untung rugi, profesi yang penuh resiko dan taruhannya adalah nyawa bak seorang prajurit yang sebelum maju ke medan perang harus mengangkat sumpah ‘mati yes, hidup no’,. profesi yang sulit dimengerti oleh benak manusia, tetapi menarik untuk dicermati, yang dikaluti seram dan rasa takut, tetapi mesra untuk digeluti, yang penuh dengan wadas dan kerikil tajam, tetapi bukan berarti tidak mungkin.
                Apa yang dibanggakan dari profesi ayahku ini ?
Seorang guru dengan kulum senyum seorang pendidik membanggakan profesinya karena mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang Pancasilais sejati, seorang dokter sepantasnya membanggakan profesinya karena dapat menyelamatkan nyawa seorang pasiennya dari penyakit atau bahaya maut.
Tidak banyak yang aku banggakan :
Aku cukup bangga terhadap profesi yang pantang akan ambisi dan kuasa, profesi yang alergi terhadap sentimen dan cemburu sosial, dan satu yang pasti adalah bagaimana profesi seorang ‘lamafa’ yang mampu membaca, merasakan, menterjemahkan dan memenuhi keinginan dan harapan dari semua yang menggantungkan hidupnya dari profesi ini termasuk para janda dan fakir miskin.
Ayahku kini telah tiada, namun masih ada banyak orang yang akan mewarisi profesi ini.
Ia pun pasti membanggakan hidup dan kehidupanku sekarang ini. Ia tidak pernah mengharapkan agar aku menjadi seorang Habbibie yang mampu mengembangkan teknologi perpesawatan di negeri ini, atau menjadi seorang Pratiwi Soedharmono yang menjadi astronaut wanita pertama di Asia. Setidak-tidaknya ia sudah cukup bangga melihat diriku yang telah menjadi seorang manusia. Ya seorang manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dan kelebihanku. Manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan gereja serta ‘lewo tanah’
                                                                                                                                Sintang, Medio  Maret 2010
                                                                                                                                (S.R. Tapoona)

Kamis, 03 Maret 2011

Lamalera (Putra Tapoona)



penulisan tentang asal - usul sebuah kehidupan merupakan sebuah keinginan untuk memberikan sebuah gambaran yang populer mengenai suatu kehidupan dan bagaimana melangsungkan kehidupan itu.
berbicara mengenai asal - usul kehidupan lamalera yang lebih dikhususkan pada suku (marga), tentu mempunyai sejarah yang berbeda.

di Lamalera setiap suku dipimpin oleh seorang kepala suku yang juga berpengaruh sebagai ketua adat. mereka masih mempunyai sebuah ketaatan yang seolah - olah otomatis terhadap tradisi atau adat yang sangat kokoh. jika ada pelanggaran atau kelainan menjalankan tradisi nenk moyangnya terutama menyangkut lango bele ( rumah adat ).
bagi wisatawan yang pertama kali datang disana, Lamalera sangat mengesankan sebagai suku yang bertemperamen keras dan kasar. kesan itu akan segerah berubah sebab seperti umumnya masayarakat Indonesia, mereka adalah kelompok etnis dengan sosio kiltur yang sama dan penuh semangat gotongroyong.



disini saya sebagai seorang putra lamalera yang lebih khusus lagi yaitu putra Tapoona,mencoba memberikan sedikit gambaran tentang cikal - bakal suku ( marga ) Tapoona. bahwa suku Tapoona ini berasal dari Maraklollo ( suatu tempat di ujung timur pulau solor ). akibat bencana alam, yaitu genangan air bah, mula - mula berpindah ke Awololong Golo Mangi, namun kemudian di tempat tersebut namun terjadi lagi bencana yang sama di tempat tersebut, mereka terpaksa berpindah lagi mencari tempat perlindungan baru.
mula - mula mereka mendarat di daerah Loang  ( utara pulau Lembata ) kemudian mendaki ke gunung Ile Labalekang yang akhirnya turun ke pantai Lamalera.
.
di Lamalera sekarang ini terdapat 4 rumah adat (lango bele) suku Tapoona. pada bagian ini, yang lebih dikhususkan dalam pembahasan ini adalah rumah adat suku Tapoona (Saja Langu)
juimlah anggota dalam suku Tapoona yang satu ini tidaklah banyak. Suku tapoona ini sangat berbeda dari suku - suku lain yang berada di Lamalera. bahwa anggota dalam suku Tapoona ini lebih sedikit dibandingkan sengan suku - suku lain seperti Bediona, Bataona dan masih banyak suku yang alinya. namun kehidupan suku Tapoona ini janganlah dilihat dari jumlah anggota dalam sukunya tapi bagaiman kehidupan yang dijalankan dalam suku ini. banyak orang mengatakan bahwa suku Tapoona hanyalah sebuah suku kecil yang miskin dan tidak punya apa - apa. bahasa - bahasa seperti ini dikeluarkan terutama pada saat seorang putra dari suku Tapoona ingin menikahi atau hidup bersama dengan wanita yang berasal dari suku lain. memang benar bahwa suku Tapoona hanyalah sebuah suku kecil tapi tidak berarti bahwa suku Tapoona tidak mampu dan tidak bisa berbuat apa- apa. ini sudah terbukti bahwa tidak ada seorang keluarga yang berasal dari suku Tapoona yang tidak mampu menghidupkan keluarganya dan mati kelaparan. itu tidak ada dan tidak mungkin. semua itu sudah terbukti karena orang - orang yang berasal dari suku Tapoona itu hidup dengan apa adanya, bekerja untuk menghidupkan keluarganya. mereka tidak berjalan dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta - minta seperti orang - orang kecil yang di setiap lampu merah, mereka mencari hidup. ini sangat berbeda dengan suku Tapoona. mereka mampu untuk menjalankan dan melangsungkan kehidupan mereka. oleh karena itu, anggapan bahwa suku Tapoona hanyalah sebuah suku yang tak punya apa- apa itu adalah anggapan yang buta yang tidak terlebih dahulu melihat bagaimana kehidupan suku Tapoona.
ole4h karena itu, saya sebagai generasi penerus suku Tapoona mengajak Reu - reu yang lain untuk bisa menbuktikan bahwa kita suku tapoona BISA dan segerah kita menggeser dan mengahapus anggapan orang yang mengatakan seperti tu